Tampilkan postingan dengan label My Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Story. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 September 2011

Coblosan Walikota

Hari Minggu 25 September 2011, hari di RW 16 Dukuh Gedongkiwo tak seperti biasanya. Suasana sedikit serius dan terkesan aneh, lain dari yang lain. Yah wajar saja hari karena hari itu adalah hari pemilihan walikota Jogja. Ada 3 pasangan yang memenuhi syarat untuk menjadi calon walikota Jogja, tak perlu saya sebutkan, di berita lokal maupun nasional sudah sering dibahas. Sedangkan pemilihnya ada beribu-ribu orang tersebar di seluruh penjuru Kota Yogyakarta. Syarat untuk menjadi pemilih pun juga ada diantaranya sudah punya KTP dan terdaftar sebagai calon pemilih. Yah beruntung sekali aku sudah 19 tahun, bisa deh nyoblos, blooss. Ini merupakan pengalaman kedua setelah pemilu 2009.

Jam 8 pagi dengan pakaian khas pakai parfum biar wangi langsung saja aku menuju TKP, TPS 24 Gedongkiwo. Disana sudah rame antrean warga yang akan mencoblos. Selembar surat undangan dan kartu pemilih sudah dibawa, langsung saja mendaftarkan diri di petugas registrasi untuk kemudian duduk menanti panggilan. Yah daripada bosan, aku banyak bercerita dengan rekan saksi pemilu dari salah satu calon yang juga rekan saya sendiri. Pakaian khas sesuai dengan pakaian calon. Bercerita soal kemungkinan dan prediksi semua memiliki pandangan masing-masing, tetapi intinya menginginkan pemimpin yang adil, bijaksana, peduli dengan rakyat, dan membuat Kota Jogja semakin baik lagi.

Sekitar 15 menit kemudian nama saya dipanggil, wuih rasanya sudah tak sabar ingin menyumbangkan suara dan masukan demi kemajuan Kota Jogja. Langsung saja, begitu surat suara diberikan, masuk ke bilik, dengan membaca kalimat tasmiyah dan niat yang baik, aku coblos calon yang aku pikir layak dan kompeten untuk menjadi pemimpin. Kulipat surat suara, masukkan ke dalam kotak suara, buat tanda bukti coblosan, cukup mencelupkan salah satu jari tangan ke tinta yang telah disediakan dan selesai sudah. Simpel kan dan tidak repot? Golput? Yah itu cuma pemikiran orang yang tidak mempunyai tujuan bersama-sama membangun bangsa. Tapi, itu juga pilihan dan harus dihormati juga.

Setelah itu, lanjut bercengkerama dengan rekan-rekan di tempat tunggu pemilih. Sambil bercanda, ada rekan yang bilang: "eh, mau gambare tak coret-coret, tak nei sungu, kumis, wes kabeh wae." Yah lucu sih, tapi dalam hati aku berpikir, buat apa hadir kalau cuma ingin begitu? Yah tapi itu cuma satu orang jadi biarlah. Cukup lama menanti waktu perhitungan, akhirnya perhitungan dimulai. Ternyata pemenang di TPS 24 sudah bisa ditebak dari kampanyenya, tapi rahasia ya. Untuk pemenang secara kumulatif di surat kabar dan berita lokal maupun nasional sudah terpampang jelas. Langsung saja pemenangnya adalah pasangan nomer 3 dan kami seluruh warga Kota Jogja mengucapkan selamat atas terpilihnya pemimpin yang baru. Semoga menjadi pemimpin yang adil, bijaksana, amanah, peduli rakyatnya, dan membuat Kota Jogja semakin baik lagi. Yogyakarta Never Ending Asia bahkan Dunia!!!

Senin, 12 September 2011

Sambutan Pagi Kota Kembang

Pagi itu, Jum'at 11 Maret 2011, waktu masih menunjuk pukul 05.00 WIB. Langit sudah mulai kehilangan kegelapan karena intipan sang surya. Stasiun Bandung, seperti stasiun lainnya, suasana pagi tetap ramai lalu lalang orang dengan keperluan masing-masing. Apalagi kedatangan kereta bisnis Lodaya malam jurusan Solo-Bandung di pagi itu, semakin menambah ramai stasiun. Beratus-ratus orang keluar dari gerbong yang penuh sesak karena desak-desakan dengan macam-macam bawaan, ada pisang, tas ransel, kardus besar, bagor, semua terangkai jadi satu. Tak sedikit pula dari mereka sudah dinanti sanak keluarga layaknya sudah bertahun-tahun tak jumpa.

Aku keluar dari gerbong kereta bersama seorang temanku. Pakaian rapi, celana panjang, sepatu, dan tas ransel dipunggung menjadi hiasan layaknya seorang berangkat kuliah. Baru keluar dari gerbong 5 menit, bulu kuduk sudah berdiri dan gigi menggigil. Dinginnya udara pagi di Kota Kembang begitu menusuk setiap pori kulit tubuhku. Mana tidak pakai jaket juga, cuma kaos tipis berlapis kemeja tipis andalanku. Teringat olehku, waktu masih pukul 05.00 WIB. waktu sholat subuh belum habis. Kami berdua berjalan menuju mushola dalam stasiun. Kuletakkan tas di tempat aman, lalu kuambil air wudlu yang begitu dingin bagai air kulkas namun begitu menyegarkan di kulit. Alhamdulillah, syukur aku masih bisa melaksanakan sholat subuh di mushola. Tanpa istirahat, kami langsung menuju ke tempat tujuan kami. Sebuah hotel di kawasan Lembang dengan panorama yang begitu indah, seindah namanya, Panorama Indah, menjadi tujuan kami.

Tangkuban Perahu di Lembang

Tangkuban Perahu di Lembang



Keluar dari mushola, kami langsung mencari kendaraan menuju Lembang. Taksi akhirnya menjadi pilihan kami, di samping tidak ribet mencari jurusan, juga lebih aman dan nyaman. Jalanan Kota Kembang di pagi hari masih sepi, taksi melaju dengan kecepatan tinggi membelah jalanan Kota Kembang. Pemandangan sepanjang perjalanan begitu asri dan menyejukkan. Pohon-pohon, taman, bangunan mewah, pegunungan, terangkum menjadi sebuah cerita perjalanan. Tepat pukul 05.30 WIB tibalah kami di hotel Panorama Indah. Tepat seperti namanya, panorama di sekitar hotel benar-benar menakjubkan. Gunung Tangkuban Perahu dan sekitarnya terlihat sangat indah. Apalagi sang surya mulai menampakkan batang hidungnya. Suasana sejuk berbaur hangat sungguh nikmat berbalut kondisi alam sekitar yang memanjakan mata.

Puas sudah melihat pemandangan, kami masuk ke kamar yang telah dipesan dan ditemui oleh orangtua teman. Suasana dalam kamar pun tak kalah hebatnya. Tata ruang yang modern dengan AC central yang menyejukkan, pas tidak dingin. Kami rebahkan badan sejenak, untuk kemudian mandi menyegarkan badan dan sarapan bersama jajaran departemen kehutanan. Cukup nasi goreng omelette dan bubur ayam sebagai pembuka dengan secangkir teh hangat wangi. Ahh, sarapan didampingi panorama yang luar biasa benar-benar nikmat tiada tara. Tak lama kami sarapan, langsung menuju tujuan berikutnya di pagi ini. Tangkuban perahu menjadi pilihan.

Perjalanan menuju Tangkuban Perahu memakan waktu setengah jam. Angkot menjadi pilihan utama kami, dengan perkiraan murah bayar ongkosnya. Pemandangan selama perjalanan pun tak kalah menariknya. Gunung-gunung, lembah menjadi hiburan utama. Sampai di lokasi, kami kaget bukan main, uang seratus ribu melayang begitu saja untuk angkot! Benar-benar sopir yang nakal membodohi kami. Tapi apa mau dikata, semua udah terjadi, dan itu menjadi pelajaran bagi kami untuk lebih hati-hati sama sopir angkot. Suasana kesal begitu menyelinapi di Tangkuban Perahu, namun hal itu terbayar dengan keindahan yang ditawarkan. Suasana sejuk dengan pemandangan seluruh Kota Bandung dan sekitarnya juga pegunungan benar-benar mengobati kekesalan ini. Matahari yang masih kuning benar-benar menjadikan suasana bersahabat. Sebuah pagi di Kota Kembang yang penuh warna dalam sebuah cerita. Ingin ku kembali lagi dengan cerita yang lebih indah. Ucapkanlah selamat datang dengan keramahan dan kesejukan ketika aku kembali. Sebuah sambutan penuh makna yang tak terlupakan dari Kota Kembang.

Sabtu, 10 September 2011

Laki-laki Penyaji

Dan inilah harinya para lelaki yeee.... Sepenggal lirik lagu yang sering saya dengarkan dari Jenny menjadi gambaran cerita unik 13 lelaki hari ini, Sabtu 10 September 2011 di Desa Pendem, Sidomulyo, Pengasih, Kulon Progo. Cerita berawal dari kegiatan pertemuan kelas yang diadakan Pembimbing Akademik dan memutuskan bahwa untuk konsumsi makan berat diserahkan pada mahasiswa laki-laki dengan menu yang sudah ditentukan dan harus memasak sendiri. Menunya cukup aneh, sayuran berupa bayam, wortel, kecambah, dan daun ubi jalar harus dimasak 3 jenis. Pertama sayur asam, kedua asam dengan temu kunci, ketiga daun ubi jalar yang juga dimasak asam. Wuih, bayangkan, baru kali ini mendengar olahan seperti itu sudah harus disuruh buat! Well, itu membuat bingung sekaligus menarik untuk mencoba hal yang baru. Sebuah tantangan buat para lelaki yang baru menginjak dewasa.

Pukul 09.00 WIB. acara memasak dimulai. 13 lelaki bertarung melawan bumbu, sayuran, dan peralatan dapur dengan pantauan dari ibu sahabat kami dan juga dosen pembimbing kami. Tanpa disuruh semua memposisikan diri meski tetap bingung juga. 4 orang mengupas kulit tempe, 3 orang mengupas beberapa bumbu yang diperlukan, 2 orang mengupas wortel, 2 orang menyiapkan perlengkapan menanak nasi, dan 2 orang lagi memotong sayuran. Rame? Itu sudah pasti, sahut-sahutan kata, banyolan, gurauan, benar-benar menjadi penghias sekaligus hiburan pemecah keheningan dan kekakuan. Dan dari situ aku mulai berpikir kalau perempuan cerewet itu wajar, karena laki-laki kalau melakukan pekerjaan yang lebih mengarah pada pekerjaan perempuan ternyata juga cerewet. Ternyata mengerjakan pekerjaan perempuan itu membuat kita sedikit tahu tentang kepribadian perempuan. Mengupas tempe menjadi tugas paling mudah dan cepat, selanjutnya tim yang mengupas tempe beralih membantu grup lain. Cukup cepat pekerjaan pertama ini selesei.

Pekerjaan selanjutnya adalah menanak nasi, menggoreng tempe, membuat sambal, dan membuat sayur tiga macam. Semua tumpah ruah di dapur, mulai dari percakapan nggak mutu, keluhan, banyolan, bingung, jengkel, seneng, tawa, susah, salah ini, salah itu jadi satu. Cuma menggoreng tempe bahkan harus dikelilingi 5 orang, dan yang menggoreng cuma satu seperti adanya tontonan heboh, sedangkan yang menanak nasi yang justru susah disisakan 2 orang dengan ibu sahabat kami sebagai pembimbing. Proses menanak nasi memakai ketel dan soblok ternyata susah sekali, harus ulet dan teliti sekali. Jangan sampai gosong dan airnya habis. Bahkan, saat memindahkan nasi ke soblok sotilnya patah, mungkin karena kelebihan tenaga. Sedangkan untuk tempenya tidak jauh berbeda, percobaan pertama mentah dan sangat asin. Tapi karena berusaha seterusnya penggorengan tempe berhasil.

Sayur, inilah inti dari segala masakan, tujuan utama para lelaki memasak. Sebuah masakan yang baru pertama didengar dan terkesan asing. Disini justru dosen pembimbing yang lebih banyak terlibat. Mulai dari bumbu dan cara memasak, cuma satu dua orang yang terlibat dalam proses ini. Dan ingin tahu hasilnya? Nanti dulu. Lalu yang tak kalah menarik adalah sambal. Ada dua macam sambal, terasi dan tomat. Dan sama saja, banyak yang mengerubungi pembuatan ini. Bahkan rekan-rekan yang perempuan turut masuk ke dapur untuk sekedar foto-foto, bercanda, memantau, menertawakan, dan sedikit membantu. Semua serba ceria bersama-sama. Disitulah makna kebersamaan yang begitu kental di dapur. Satu pekerjaan lagi, membuat minum. Sungguh lucu ketika melihat syrup berwarna cerah dan bening. Tawa mengejek yang buat syrup begitu membahana. Sebuah keadaan yang jarang terjadi di kelas kami, berkumpul seperti ini penuh lelaki dengan pekerjaan perempuan dan begitu berkesan.

Akhirnya, tibalah waktu makan siang. Kami menyajikan makanan untuk rekan-rekan perempuan tanpa ada rasa sungkan. Nasi dibagi sama rata tapi lauk ambil sendiri-sendiri. Tempe dan sambal menjadi yang paling laris, sedangkan 3 sayur tadi terkesan dilewatkan dan sengaja dihindari bahkan oleh yang masak sendiri. Dan, setelah suapan pertama untuk sayurnya... He'eh rasanya ngampleng!!! Tapi tetep nikmat lah karya bersama. Sebuah pengalaman pertama yang layak dihargai. Harus habis tanpa sisa itulah lelaki yang tanggung jawab. Porsi lelaki sedikit berbeda dengan perempuan. Sayuran menjadi menu wajibnya. Merem melek saat nelen bukanlah halangan. Semua nikmat dengan sugesti masing-masing. Yang penting habis tanpa sisa. Setelah makan, masih ada lagi pekerjaan lain, kali ini mencuci piring, gelas, sotil, baki, soblok, ketel, dll. Kali ini giliran sumur yang menjadi rame layaknya pasar burung. Bermain air sambil bercanda emang mengingatkan pada masa kecil kami semua. 13 laki-laki berkumpul di sumur asal ambil pekerjaan supaya ringan dan berpartisipasi dengan mulut tentunya terbuka lebar. Akhirnya selesai sudah semua pekerjaan. Benar-benar mengesankan dan inilah harinya para lelaki. Sebuah hari yang berbeda dimana semua berbaur menjadi satu untuk satu tujuan, menyatukan perbedaan untuk kebersamaan, dan mengalahkan tantangan di depan mata. SALUT!!! Tak ada jalan pintas untuk sukses, semua butuh perjuangan dan jalan masih panjang. Pada dasarnya laki-laki sama perempuan memiliki pekerjaan sama. Jadi jangan pernah saling merendahkan satu sama lain. Inilah Laki-laki

Kamis, 08 September 2011

Dibalik Silaturahmi Di Bulan Fitri

Alhamdulillah, itulah kata pertama yang layak diucapkan setelah lelah bersilaturahmi ke kediaman mantan guru dan sahabat masa SMA-ku selasa tempo hari. Bersama seorang sahabat SMA juga yang kebetulan kuliah di jurusan yang sama denganku, pendidikan matematika, kami memulai perjalanan pukul 09.00 WIB, tepat setelah kuliah jam pertama selesai. Kebetulan pula jam kedua dan ketiga kuliah ada jeda, jadi kami benar-benar memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Kunjungan pertama yakni menuju kediaman guru agama di daerah gedongkuning. Sesampainya disana sebuah senyuman dan sambutan hangat telah menanti kami dari guru agama kami. Kami dipersilahkan masuk, tak lupa kujabat dan kucium tangan beliau. Kemudian kami bercerita dan bernostalgia mengenang masa-masa di sekolah sambil menikmati suguhan khas lebaran yang begitu menarik. Beliau masih ingat betul saat-saat aku bikin ulah yang membuat pelajaran selama 2 jam hanya untuk menasehatiku. Beliau juga bilang,"Saya benar-benar terkejut dan trenyuh sewaktu mendapat sms kalau seorang radite sampai mau bersilaturahmi ke kediaman saya." Masih lanjut beliau,"Padahal saya kira dulu begitu marah dan jengkel sewaktu saya nasehatu." Sontak aku pun jadi ikut terharu kalau mengingat kejadian waktu itu dimana aku masih labil dan bandel-bandelnya.

Selang beberapa saat datanglah tamu yang tidak saya kira. Dari dalam terlihat seperti orang yang bingung mencari tempat parkir. Kemudian setelah mengetuk pintu ternyata, alhamdulillah, orang itu adalah guru BK kami. Sebuah berkah tersendiri, kami dipertemukan di tempat tersebut tanpa ada 'tlisiban'. Bahkan selang beberapa saat kemudian datang pula 3 orang sahabat kami disusul 2 orang sahabat yang lain. Suasana menjadi seperti pesta reuni kecil guru dengan bekas muridnya. Akan tetapi cuma sebentar kami bersama. aku dan temanku yang satu izin untuk meneruskan silaturahmi ke tempat lain. Terasa sangat berat saat kami harus berpamitan dengan guru dan kawan lama, tapi setiap ada pertemuan haruslah ada perpisahan.

Tujuan kami berikutnya adalah menemui guru matematika kami di sekolah kami, SMAN 4 Yogyakarta. Akan tetapi, ternyata beliaunya sudah pulang jadi kami lanjut bersilaturahmi dengan karyawan-karyawan sekolah. Ada pak satpam, pak bon, pak parkir, pak TU, dll. Tak lama kami di sekolah, cuma 10 menit. Perjalanan selanjutnya, kami menuju ke Seyegan ke rumah dua orang kawan lama kami dan guru kimia yang pernah jadi wali kelas kami saat kelas XI. Tepat pukul 11.00 kami tiba di rumah salah satu sahabat kami di dukuh jamblangan seyegan. Kembali kami bernostalgia dengan sambutan biasa-biasa seperti dulu namun begitu bermakna. Kami bertemu pula dengan bapaknya yang juga masih samar-samar mengingat wajah kami, saking lamanya tidak berjumpa. Setelah melepas lelah dan bernostalgia sebentar, kami lanjut menuju rumah sahabat kami yang lain di margodadi seyegan. Cuma 5 menit kami sudah sampai di rumah sahabat kami itu. 

Sebuah senyuman aneh dan khas seperti dulu dan gurauan menyambut kedatangan kami. Sama halnya di tempat-tempat sebelumnya, hidangan lebaran telah menyambut dan orangtua sahabat kami tersebut juga menyambut kami dengan hangat sambi menanyakan,"kok dangu mboten mriki mas?" Dan kami cuma tersenyum dan basa-basi mencari alasan. Adzan dzuhur telah berkumandang, sejenak kami melepaskan aktivitas dan mengabdikan diri kepada Allah sebagai rasa syukur atas segala nikmatNya. Setelah sholat dzuhur, cuma sebentar kami minum dan menikmati camilan, kami langsung menuju ke rumah guru kimia kami. 3 orang dari sini dan seorang telah menunggu di rumah guru kimia kami. Di perjalanan, aku benar-benar merasa ini bagaikan 3 atau 4 tahun yang lalu saat kamu masih berseragam putih abu-abu bermain berkendara melewati tempat yang sama dan pemandangan yang sama pula. Tak lama kemudian, sampailah di rumah guru kimia kami. Namun ternyata beliaunya sedang ke bengkel dan tidak bisa kami temui. Namun hal itu juga menjadi berkah bagi kami yang masuk kuliah jam 1 siang karena jam sudah menunjukkan pukul 12.30 dan beliaunya juga bisa ditemui sore jam 4. Sejurus kemudian tepat pukul 1 siang aku dan sahabatku yang satu jurusan telah tiba di kampus untuk kuliah.

Pukul 3 datang dengan cepatnya. Setelah kuliah dan makan siang kami melanjutkan perjalanan silaturahmi ke rumah guru matematika kami di daerah kemetiran lor. 10 menit perjalanan cukup untuk mengantarkan kami sampai ke rumah beliau meski sedikit membingungkan. Di depan pintu rumah beliau, kami sedikit ragu, apakah benar ini rumahnya? lalu kami tanya pada segelintir anak di sekitar, dan alhamdulillah, pencarian kami telah menemui hasil setelah tahun kemarin kami gagal menemukan rumah beliau. Ketika kami ketuk pintunya muncullah sesosok wanita dengan wajah mirip beliau dan ternyata itu adalah anaknya. Kaget tapi lebih kaget lagi ketika mendengar kalau ternyata beliaunya sedang tidak di rumah. Senyum kecut menghiasi wajah kami berdua. Tapi sekali lagi keajaiban silaturahmi terjadi. Tidak sampai 1 menit setelah mendengar beliau sedang tidak di rumah, terdengar suara motor dan suara beliau. Dan, yak tepat sekali sesuai perkiraanku, beliau tiba bersama istrinya dan sontak kaget melihat kami berdua sembari tersenyum dan sedikit berkaca-kaca, mungkin mengingat bahwa aku dulu adalah murid yang sering membuatnya jengkel justru datang ke rumah beliau, menyambut kedatangan kami. Layaknya murid dan guru yang lama tak jumpa, kami berjabat tangan dan kucium tangannya seraya memohon maaf atas segala khilaf selama menjadi murid beliau. Kemudian terjadi lagi nostalgia dan saling berbagi cerita masa lalu sembari 'ngemil' makanan yang renyah dan menggoyang lidah. Kebetulan kami jurusan pendidikan matematika, jadi beliau banyak bercerita tentang pengalamannya terdahulu. Beliau adalah senior kami di Universitas yang sama sekaligus guru kami. Banyak sekali cerita-cerita nyata yang membakar semangatku dan memotivasiku dalam belajar menggapai cita-cita. Beliau bercertita mendapat beasiswa ke amerika 2 tahun dan australia 4 bulan, namun yang di amerika tidak beliau ambil karena anak-anak beliau masih balita. Beliau juga memberi semangat dan dorongan agar kami mampu sekolah yang tinngi dan bener-bener niat dalam belajar karena apa pun itu kalau diniati hasilnya akan baik. Cukup lama kami mengobrol, sebelum waktu dan kepentingan lain yang memaksa kami mengakhiri nostalgia. Di akhir beliau mengucapkan terima kasihnya dan juga merestui supaya kami bisa sukses ke depannya dan mengantarkan kami sampai depan rumahnya dengan raut wajah tuanya yang terlihat bahagia.

Kemudian perjalanan kami lanjutkan menuju rumah guru kimia kami yang juga mantan wali kelas di kelas XI. Di sana telah menunggu pula 3 sahabat kita untuk bersilaturahmi bersama. Setengah jam waktu yang lumayan lama untuk sampai ke rumah beliau karena kami juga harus sholat asar dahulu. Beliau pun dengan kewibawaannya telah menanti kedatangan yang kami janjikan. Alhamdulillah reuni kecil murid dengan wali kelas XI bekitu kental dengan suasana lebaran, silaturahmi saling memaafkan, bercerita, memotivasi, bersendau gurau, sambil menikmati camilan lebaran. Banyak sekali yang beliau sampaikan mengenai perkembangan sekolah kami tercinta, kondisi guru-guru, kondisi muridnya, kurikulum sekolahnya, bagaimana kegiatan belajar mengajarnya, dll. Lama pula kami berada disana saling berbagi kisah cerita masing-masing dan terfokus pada pembicaraan dengan tokoh utama tentu saja beliau selaku pembicara utama dengan kami sebagai pendengar setia dan penyerap ilmu yang baik. Tetapi, waktu emang punya batasan sendiri-sendiri, waktu telah memasuki maghrib, tidak enak bagi kami kalau bersilaturahmi lama-lama dan mengganggu waktu beribadah beliau. Akhirnya kami izin pamit dan memohon do'a restu agar kami semua sukses serta meminta maaf atas segala khilaf kami. Beliau sebagai orang tua yang arif juga tanpa ragu meminta maaf pada kami dan mendo'akan serta memberi dorongan semangat agar kami sukses dan berada di jalan yang lurus. Suasana hening dengan samar-samar mengamini saat beliau berdo'a benar-benar membuat kami terharu. Begitu tulusnya seorang guru mendo'akan muridnya. Akhirnya beliau mengantarkan kami sampai depan rumahnya sebelum kami menuju perjalanan terakhir silaturahmi.


Tujuan terakhir kami adalah rumah sebelah guru kami dengan spasi 1 rumah, yakni sahabat lama kami pula, tempat mangkal kami sewaktu kelas XI, anak yang juga se-kampus denganku. Disana kami bernostalgia dan juga sholat maghrib bersama-sama yang mengingatkan masa lalu dimana kami sholat dzuhur bersama-sam. Nikmat sekali suasana malam di desa penuh kenangan SMA. Kami habiskan waktu maghrib untuk bercanda dan menertawakan masa lalu kami sembari bercerita kondisi kami sekarang ini. Waktu maghrib telah habis dan ternyata timnas Indonesia juga bermain malam itu. Akhirnya kami mengakhiri perjalanan silaturahmi di hari itu. Aku pulang dan sampai di rumah tepat saat timnas menyanyikan lagu kebangsaan. Ah, nikmatnya sungguh tepat. Inilah salah satu dari banyaknya berkah silaturahmi. Selalu ada keajaiban yang menyelimuti. Dan aku bersyukur masih diberi kesempatan untuk bersilaturahmi. Alhamdulillah.